Rabu, 16 Februari 2011

Muhammad Saw: Rasul Zaman Kita

Moch. Iskarim, M.S.I **)

I. Pendahuluan
Puji syukur yang kita panjatkan kepada Ilahi Robbiy, Allah SWT, yang menguasai alam semesta ini, seharusnya bukanlah merupakan ucapan lisan semata yang merupakan “lip-servis”, akan tetapi harus mampu terwujud dalam perilaku nyata sebagai akhlaqul karimah. Begitu juga ketika kita menyampaikan sholawat dan salam kepada junjungan kita, Muhammad Ibn Abdillah, tiada berbeda, harus juga memiliki konsekuensi logis menjalankan ajaran yang beliau sampaikan dalam keseharian kita sebagai indikasi untuk mendapatkan pertolongannya (safa’at) di dunia juga akherat. Semoga kita tergolong hamba-Nya (Allah, Robbul’izzat) dan ummatnya (Muhammad, khotamul ambiya’) yang muslim, mukmin, sekaligus taqwa.
---
Muhammad Saw adalah putra ‘Abdullah cucu ‘Abdul Mutholib dari urutan Hasyim ibn ‘Abdu Manaf ibn Qushai (saudara Zuhrah yakni klan ibu Nabi, Aminah) ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’b ibn Lu’ay ibn Ghalib dari Firh (dikenal sebagai Quraisy). Sedangkan Ibunda Muhammad adalah Aminah bint Wahab bint Zuhrah saudaranya Qushai. Dilihat dari Nasab antara Ayah dan Ibunda akan bertemu pada keturunan Murrah, yakni dari Kilab yang bersaudara dengan Taim (klan Abu Bakar dan Thalhah) dan Yaqazhah (mempunyai keturunan bani Makhzum, klan Abu Salamah dan Khalid ibn Walid).
Muhammad Saw bagaikan matahari yang menyinari kegelapan. Sinarnya membantu kita mengetahui sesuatu yang kita lihat. Dengan bantuan pancaran ajarannya kita bisa memilah dan memilih mana sesuatu yang baik dan mana pula yang buruk, mana hal yang membangun peradaban dan mana pula yang merusak. Melalui perannya sebagai utusan Allah (Rasulallah) kita bisa merasakan indahnya dan begitu teraturnya kehidupan ini. Bagaikan dalam sistem lalu lintas, ajaran Muhammad bak trafic-light (lampu pengatur lalu lintas) yang mengatur jalannya kendaraan dalam keteraturan tanpa benturan. Sungguh, Muhammad Saw adalah Sang teladan ummat. Tak terbatas pada ummat yang bersimbol Islam, akan tetapi keseluruhan ummat manusia, menembus batas tanpa membedakan latar belakang budaya, suku, bangsa, dan agama. Beliaulah Sang pembawa nilai-nilai mulia sebagai rahmatan lil ‘alamin (bagi totalitas kehidupan manusia), Muhammad ibn Abdillah, Abul Qosim.

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(Q.S. Al Anbiya’ : 107)

Kalau di dunia ini ditanyakan siapa yang tepat dijadikan sumber inspirasi, sumber petunjuk kemuliaan, Top figur teladan ummat, maka jawaban yang tidaklah mungkin disangkal adalah Muhammad Saw. Sehingga tak mustahil Muhammad Saw dijadikan 100 tokoh berpengaruh dunia dalam urutan no.1

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. al-Ahzab [33] : 21)

Bisa saja Muhammad Saw telah meninggalkan kita kurang lebih 1377 tahun yang lalu (w. 634 M), namun terasa Beliau masih bersama kita dalam kehidupan sampai saat ini. Beliau selalu menuntun setiap langkah kita. Menunjukkan bagaimana kita harus bersikap, berpikir, dan berbuat demi kemajuan kita. Ajaran Muhammad tidak terbatasi oleh usia yang terhentikan oleh kemangkatannya kepada Yang Maha Agung, Allah Swt. Sampai saat ini, bersama kita, Muhammad Saw masih hidup dan selalu akan hidup dalam setiap aktifititas kita sehari-hari. Allahumma Sholli ‘ala Muhammad..

II. Muhammad Saw; Rasul Zaman Kita
Setiap tahun, di bulan Robiul awwal, atau orang jawa bilang wulan mulud, kita selalu disuguhkan berbagai agenda untuk memperingati kelahiran Muhammad Saw. Dimulai dari acara pembacaan berzanji selama 12 hari lalu diadakan arak-arakan keliling dengan membawa oncor (penerang yang terbuat dari bambu dengan minyak tanah), pengajian-pengajian, ada juga yang mengadakan grebeg maulud yang biasa diadakan di keraton Jogja dan Solo, dan sebagainya. Kesemua agenda tersebut seakan-akan merupakan agenda “yang harus ada” di setiap bulan Maulud datang.
Namun, sebagai insan pembelajar, jangan sampai agenda yang setiap tahun dilaksanakan itu sampai kehilangan makna sejatinya, yakni mengambil pelajaran (ibroh) dari kehidupan Muhammad Saw. Serta, bagaimana pula akhlak Muhammad selalu mengiringi langkah dan aktifitas kita sehari-hari menuju peradaban ummat yang unggul dan bermartabat. Kuntum khoero ummatin ukhrijat linnas. Muhammad Saw adalah Rasul Zaman kita, diamana ajaran-ajarannya selalu hidup dalam kehidupan kita sehari-hari.
Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari sirah nabawiyah –sedikit dari banyaknya pelajaran- adalah sebagaimana dijelaskan berikut.

1. Kebersahajaan
Kebersahajaan atau biasa kita kenal dengan kesederhanaan, adalah suatu sikap dan perbuatan yang apa adanya, bukan merupakan sesuatu yang di-design/dibentuk, dihias, sedemikian rupa oleh pelaku. Kebersahajaan juga diartikan sebagai sifat yang fungsionalistik, dimana keberadaan ‘fungsi’ dari sesuatu sangat ditekankan dibandingkan dengan ‘emosi’ si pelaku. Kebersahajaan jangan sampai dimaknai sebagai sikap dan perbuatan yang mencoba ‘memiskinkan diri’ atau ‘merendahkan diri’ dari keberadaan kita sesungguhnya. Terkadang kita melihat beberapa orang di sekitar kita yang berlaku demikian. Misalnya, orang tersebut memiliki mobil –karena dia mampu membeli mobil, bukan karena sarat gengsi- akan tetapi dia justru memilih naik sepeda ontel atau malah berjalan kaki. Harapannya biar dia dianggap sebagai orang yang berlaku ‘sahaja’ atau sederhana. Saya kira, dari kasus orang yang beli mobil ini bisa dikatakan sebagai orang yang berlaku sahaja/sederhana jika memang kehadiran mobil itu sangat fungsional dengan keadaannya dan sesuai dengan kemampuannya. Kecuali jika setiap minggu atau setiap bulan atau setiap tahun ia berkeinginan mengganti mobil biar dikatakan lux (mewah) dihadapan orang lain. Ini sudah persoalan lain, yang justru mengarah ke sifat sombong dan takabur.
Kebersahajaan akan menjadi kekuatan yang luar biasa, terutama dalam menjalani kehidupan saat ini yang sarat dengan gengsi dan kemunafikan. Kebersahajaan akan membuat hidup kita lebih tenang, damai, dan tidak ngoyo (memaksakan diri). Seseorang yang memiliki sifat bersahaja akan lebih mampu bertahan hidup dan terhindar dari berbagai penyakit. Lihat saja pada orang sekeliling kita yang suka ‘membohongi diri’ itu. Mereka lebih mudah terserang penyakit stres atau depresi. Jiwa mereka mudah tergoncang akibat gaya hidup yang tidak disesuaikan dengan kemampuannya.
Mari kita tilik sejarah kehidupan Muhammad Saw, Sang teladan Umat.
Dalam sirah nabawiyah; suatu ketika Umar mengunjungi Rasulallah. Beliau tengah berbaring di atas tikar. Tidak ada benda lain di sekitar tikar itu. Tikarnya meninggalkan bekas pada muka dan tangan Beliau. Umar melihat ke sekeliling untuk mencari persediaan makanan Rasullah. Umar hanya menemukan segenggam gandum dan daun-daun mimosa tergeletak di sudut ruangan. Di atas kedua benda itu tergantung kantong dari kulit domba yang disamak.
Di sisi lain, ketika Muhammad Saw akan menikah dengan Khadijah maka diutuslah Hamzah, paman Nabi, untuk menemui keluarga Khadijah. Dari pihak Khadijah diwakili ‘Amr Ibn Asad karena Khuwaylid, ayah Khadijah telah meninggal dunia. Dalam pertemuan antara keluarga Bani Hasyim dan Bani Asad ini dicapai suatu keputusan bahwa Muhammad harus memberinya mahar dua puluh ekor unta betina.
Petikan sejarah nabi yang pertama menunjukkan kepada kita kondisi kesederhanaan Nabi yang sarat dengan keberfungsionalan atau kebermanfaatan terhadap kepemilikan benda, di samping sifat Nabi yang zuhud secara sempurna –dan saya kira jarang sekali orang yang bisa mencontoh seperti zuhudnya Nabi ini-. Sedangkan petikan sejarah Nabi ketika proses menuju pelaminan antara Nabi dan Khadijah, menunjukkan pada kita tentang kemewahan yang disesuaikan dengan kemampuan kita. Bayangkan ketika itu Nabi harus memberi mahar dua puluh ekor unta betina. Kalau diperhitungkan dengan sudut pandang ekonomis akan diperoleh nominal uang yang tidak bisa dianggap sedikit. Misal saja, kalau harga unta saat ini Rp. 10 juta/ekor, maka mahar nabi sebesar Rp. 200 juta (20 x 10juta), nominal yang sangat fantastis.
Jadi, menurut saya, ada dua poin penting tentang kebersahajaan, yaitu:
a. Kebersahajaan adalah fungsionalistik, dimana kepemilikan suatu benda didasarkan pada fungsinya, bukan pada kemewahan atau gengsi yang akan didapat.
b. Kebersahajaan bisa juga berarti ‘mewah’, apabila sesuai dengan kemampuan dan keadaan diri kita, serta tidak ada tekanan batin yang meliputinya.



2. Jadilah seperti Ikan
Sebelum Muhammad Saw lahir dan sampai Beliau diangkat menjadi Rasul, keadaan masyarakat Makkah saat itu sangat memprihatinkan. Kita mengenalnya dengan istilah masyarakat jahiliyyah. Keseharian masyarakatnya selalu menyuguhkan hal-hal yang jauh dari keimanan, dan jauh dari gambaran masyarakat bermoral. Penyembahan berhala Latta dan Uzza selalu dilakukan. Setiap orang yang datang mengunjungi Rumah Suci (Ka’bah) selalu menambah koleksi berhala sebagai manifestasi keimanan politeistik. Unta, domba, dan binatang lain dipersembahkan untuk berhala mereka -disediakan tempat khusus di samping Rumah Suci sebagai tempat persembahan-. Meskipun demikian, ada juga yang menganut agama Ibrahim dengan setia, dia tidak mau menyembah berhala namun tetap larut dalam kehidupan masyarakat Makkah yang cenderung Jahiliyyah.
Di samping itu, dekadensi moral hampir ditemukan di setiap sudut kota Makkah. Pesta-pesta dan perayaan tidak mempersoalkan batasan antara laki-laki dan perempuan, semuanya bercampur aduk tanpa batas. Minuman keras ditemukan di sana-sini, bagaikan minuman ‘aqua’ atau ‘aguaria’ kalau saat ini. Perzinahan dan prostitusi menjadi suguhan yang menggiurkan dan terbuka secara umum, meski ada yang dilakukan sembunyi-sembunyi.
Perpecahan diantara suku di Makkah juga sering terjadi. Siapa yang kuat akan menindas dan menguasai yang lemah. Siapa yang saat itu sedang tinggi pamornya dan sedang berkuasa, dengan seenaknya merendahkan dan menghina yang sedang jatuh sekarat. Hukum sebagaimana hukum rimba menjadi pegangan bagi mereka, keeksistensian suatu suku tergantung pada seberapa besar kekuatan yang dimiliki suku tersebut. Hanya gara-gara persoalan sepele mereka tidak segan-segan mengangkat pedang untuk berperang dan saling membunuh. Demikian juga ketika diinformasikan bahwa anak perempuan menjadi penyebab rendahnya kehormatan suatu suku, maka mereka tidak segan-segan membunuh anak mereka yang lahir dengan berkelamin perempuan. Sungguh ironis masyarakat Makkah saat itu, Jahiliyyah, zaman yang jauh dari etika dan moralitas suatu bangsa.
Namun dari kondisi masyarakat Makkah yang seperti itu, Muhammad muda mampu menjaga diri agar tidak terlarut di dalamnya. Muhammad bukanlah manusia yang mudah terlibat dalam suatu masyarakat amoral, penuh dekadensi moral. Beliau bagaikan mutiar indah yang ditemukan dari tumpukan sekam yang berceceran. Khadijah sendiri mengatakan bahwa dia mencintai Muhammad karena Beliau mampu membaur dan berperan di masyarakat tanpa harus menjadi partisan di dalamnya. Ketika orang-orang sibuk dengan aktifitas masing-masing, Muhammad justru lebih suka menyendiri (bertahanus) untuk mencari makna kebenaran, dan sampailah saat Beliau menerima wahyu pertama ketika bertahanus di Gua Hira’. Muhammad tampil dengan sosok yang gagah dan penuh pendirian, tidak mudah terinveksi oleh virus dekadensi moral yang berkembang pada saat itu.
Pelajaran yang dapat diambil dari petikan sirah di atas adalah keteguhan dalam memegang prinsip dalam kehidupan ini. Kita tahu bahwa zaman yang kita arungi ini tidak jauh berbeda dengan gambaran masyarakat jahiliyah saat itu. Perkosaan, perzinahan, dan pelecehan seksual sudah menjadi pemandangan umum. Minum-munaman keras, kehidupan malam dengan pesta-pesta telanjangnya, dugem, narkoba, pembuhunan, perjudian, dan masih banyak lainnya sudah menjadi tontonan yang tidak asing lagi bagi kita. Pencurian yang dilakukan kaum ‘kerah putih’, pertikaian dan pertumbahan darah atas nama agama, penistaan agama, dll. semua itu merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat saat ini, di negeri tercinta ini. Bahkan untuk hal tertentu justru masyarakat sekarang bisa dibilang lebih jahiliyah dibandingkan dengan kondisi masyarakat Makkah saat itu. Lihat saja masalah aborsi. Saat ini justru lebih brutal dibandingkan dengan dulu (jahiliyah). Masyarakat jahiliyah membunuh anak yang lahir dengan berkelamin perempuan. Saat ini tidak perlu menunggu sampai persalinan datang, dan tidak perlu tahu berkelamin laki-laki atau perempuan, mereka tega membunuh anak meski masih dalam kandungan.
Sebagai muslim yang mengakui Muhammad Saw sebagai teladan hidup tentunya kita bisa menjadi muslim yang mampu beradaptasi dengan masyarakat tanpa harus ikut larut di dalamnya. Tetap mengikuti arus kehidupan ini, namun tetap memiliki pegangan kuat (agama), sehingga sederas apapun arus kehidupan ini mengalir kita tetap kuat dan terarah. Istilah peribahasanya, ‘jadilah seperti ikan’ di lautan. Air laut rasanya asin namun ikan-ikan di dalamnya tetap segar dan tidak ikut asin.

3. Kemandirian
Perlu diingat bahwa meskipun keturunan pemuka Quraisy yang disegani dan kaya, Abu Thalib ditakdirkan hidup dalam kondisi penuh kekurangan, ditambah lagi banyaknya anak yang dimiliki, selain Ja’far dan Ali. Saat Nabi hidup bersamanya, kira-kira dalam usia 8 tahunan lebih, Beliau membantu perekonomian keluarga pamannya dengan mengembala domba dan kambing milik orang lain sebagai mata pencaharian. Kemudian ketika menginjak usia 12 tahun Beliau ikut berdagang ke negeri Syam (sekarang Syria) bersama Abu Thalib dan kafilah-kafilah dagang lain. Sampailah pada usia 20 tahun Beliau dipercaya Khadijah, saudagar kaya dari Bani Asad, untuk membawa barang dagangan bersama pembantu setianya, Maysarah. Kepandaian Nabi dalam berdagang sangat memberikan keuntungan berlipat atas barang dagangan yang mereka bawa. Beliau mampu menjual barang dagangan hampir dua kali lipat dari harga yang dibayarkan. Hal inilah yang diutarakan Maysarah kepada Khadijah, saat menceritakan perihal perdagangannya di Syria bersama Nabi. Karena kejujuran dan kecakapan Nabi dalam berdagang, Khadijah menaruh hati pada Beliau. Sampai akhirnya ketika Beliau berusia 25 tahun, Khadijah dengan terang-terangan mengutarakan isi hatinya kepada Nabi dengan didampingi seorang teman, Nufaysah. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, Aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di masyarakat tanpa menjadi partisan. Aku mencintaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluhuran budi dan kejujuran perkataanmu”.
Dari petikan sirah nabawiyah di atas kita bisa mengambil pelajaran berharga dalam kehidupan ini, yaitu ‘kemandirian’. Kemandirian adalah sikap yang tidak lagi menggantungkan pada pihak lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang yang memiliki sifat mandiri, ia selalu berusaha semaksimal mungkin mengembangkan diri dalam berkarya dan berproduksi di manapun berada. ‘Waktu’ yang dimilikinya (orang mandiri) dilukiskan seperti emas dan berlian yang bernilai jual tinggi. Oleh karena itu orang yang mandiri sangat memperhitungkan waktu dalam kesehariannya.
Orang yang memiliki kemandirian akan memiliki etos kerja tinggi, serta ia mampu berjalan dengan tegak di hadapan orang lain karena ia merasa bahwa tidak ada ‘balas jasa’ yang harus dibayarkan atas jasa orang lain kepada dirinya. Ia memiliki kepercayaan tinggi dalam mengarungi samudra kehidupan ini tanpa harus dirundung kekhawatiran karena tidak bisa menghidupi diri sendiri. Di samping itu pula, orang yang memiliki sifat kemandirian selalu mempunyai ide-ide cemerlang yang dijadikan formula untuk mendapatkan suatu hasil yang bermanfaat. Sampai-sampai Nabi sendiri pernah mengucapkan bahwa “produk kerja yang baik adalah produk kerja yang dihasilkan oleh tangan sendiri”.
Saat ini, orang yang memiliki sifat kemandirian memiliki banyak peluang menggapai berbagai kepentingan dalam kehidupan ini. Misalnya, (1) orang yang memiliki kemandirian, ia tidak takut lagi dan terikat oleh pekerjaan yang diberikan oleh orang lain; (2) orang yang mandiri lebih aktif untuk menjemput rizki; (3) orang yang mandiri lebih punya keberanian untuk meminang dan menikahi anak gadis orang, karena dia yakin bisa menghidupinya setelah menjadi istrinya; (4) orang yang mandiri tidak lagi ‘stres’ karena pekerjaan tidak kunjung didapatkannya; (5) orang yang mandiri menjadi ‘bos’ bagi dirinya sendiri, tidak ada lagi bos lagi yang menyuruhnya atau memarahinya jika ada kesalahan; (6) orang yang mandiri lebih tenang hidupnya; dan masih banyak keuntungan lain yang akan didapatkan jika kita memiliki sifat kemandirian.

4. Bacalah !
Nabi Saw menuturkan:
Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernafas. Kemudian ia melepaskanku dan berkata, “Bacalah!” kujawab, “Aku tak dapat membaca.” Ia mendekapku lagi hingga aku pun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata, “Bacalah!” dan kembali kujawab, “Aku tak dapat membaca!” Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantara pena (qalam). Dia mengajarkan kepada manusia yang tidak diketahuinya.” (Q.S. 96: 1-5)

Ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi, yang tidak bisa membaca dan menulis, segera mengarahkan perhatian kita pada ilmu pengetahuan/pendidikan. Kendati Beliau tidak bisa membaca, Allah menyerunya untuk membaca; dengan nama Tuhanmu (Rabb, “Pendidik”), menjelaskan hubungan antara Tuhan (Allah Swt) dan ilmu pengetahuan. Pencipta dan manusia terhubung oleh keimanan yang membutuhkan dan bersandarkan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan oleh Allah Swt kepada manusia agar mereka mampu menjawab panggilan-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Akal, kecerdasan, bahasa, dan tulisan membekali manusia dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan untuk mengemban tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sejak awal, al-Qur’an mengaitkan pengakuan terhadap Sang Pencipta dengan ilmu pengetahuan, yang dengan sendirinya menegaskan asal usul penciptaan itu sendiri.
Terkait dengan bidang pendidikan Islam, makna ‘membaca’ seperti dalam surat al-Alaq sungguh mempunyai makna yang sangat penting. Fungsi pertama dan utama dari pendidikan Islam adalah memberikan kemampuan membaca (iqra’) pada peserta didik. Kemampuan membaca ini bukan hanya sebatas membaca tulisan, namun maknanya lebih luas, yakni mampu membaca fenomena alam, gejala sosial, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, termasuk kejadian manusia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pendidikan Islam perlu adanya paradigma humanisme-teosentris, yakni mengembangkan keilmuan-keilmuan secara umum dengan tetap mengiringi nilai-nilai agama dalam pengembangannya. Humanisme-teosentris berperan aktif dalam firman yang disampaikan Allah Swt dalam surat Al-Alaq. Segenap manusia diperintahkan untuk membaca sebagai unsur humanisme yang didasari kekuatan spiritual Ilahiyah (unsur teosentris/tauhidi) yaitu “membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia” (“iqra’ bismirabbik alladzi khalaq”)

5. From Zero to Hero
Mengaca pada sirah nabawiyah kita bisa mengambil suatu pelajaran berharga dari kehidupan baginda Rasulallah Saw. Meskipun berasal dari keturunan pemuka Quraisy yang terpandang dan terhormat, Muhammad kecil hidup dalam keterbatasan dan minimalis. Sebelum Beliau lahir – 2 bulan dalam kandungan – Ayahanda tercinta wafat di Yasrib (Madinah) ketika pulang berdagang dari Palestina dan Syria (Syam). Lalu setelah lahir (570 M, versi lain 571 M) beliau dititipkan kepada Halimah bint Abu Dhu’aib dari bani Sa’d suku Badui. Hal ini sesuai dengan kebiasaan orang Makkah yang apabila melahirkan seorang bayi maka dibawa ke daerah padang pasir (suku Badui) untuk disusukan sampai usia penyapihan (2 tahun) serta untuk menghindari berbagai penyakit yang sering menjalar di Makkah. Kira-kira selama 2 tahun lebih hidup bersama Halimah, kemudian Muhammad dikembalikan kepada Ibundanya, Aminah. Selama lebih kurang tiga tahun Beliau hidup bersama ibunya di Makkah. Ketika menginjak usia 6 tahun Ibunda tercinta meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari Yasrib ke Makkah, yaitu tepatnya di Abwa’. Sepeninggal Ibunda, Muhammad hidup bersama kakeknya, Abdul Mutholib, sampai berusia 8 tahun. Setelah kakeknya meninggal dunia, Muhammad dititipkan kepada pamannya, Abu Thalib, sampai usia dewasa. Dalam usia 6 tahun Muhammad Saw menyandang status ‘yatim’ sekaligus ‘piatu’, usia yang sangat butuh dampingan orang tua dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Kondisi Muhammad yang telah dipaparkan di atas menunjukkan kondisi rendah atau kondisi yang sangat perlu dikembangkan lebih lanjut. Dengan keteguhan, kerja keras, dan diiringi akhlak mulia, lalu Beliau mulai merangkak naik meningkatkan kualitas diri dalam kondisi kehidupan masyarakat Arab yang notabene memiliki watak mobilitas tinggi. Sampai beliau menjadi ‘staf’ kepercayaan Khadijah, yang selanjutnya menjadi suami tercinta. Khadijah adalah saudagar wanita terkaya putri Khuwaylid dari suku Asad keturunan Abdul Uzzah (saudara Abdu Manaf, klan Muhammad Saw).
Kembali pada pembahasan pelajaran ‘from zero to hero’. Dalam sebuah kamus, ‘zero’ diartikan sebagai kondisi nol, posisi rendah. Akan tetapi secara lebih luas, ‘zero’ di sini (dalam pandangan pendidikan Islam) dimaknai sebagai kondisi awal manusia yang memiliki fitrah atau potensi yang dibawa manusia sebagai anugerah dari Sang Khaliq, Allah Swt. Sedangkan ‘hero’ diterjemahkan sebagai posisi tinggi manusia atau kesuksesan setelah memberdayakan potensi/fitrah yang dimilikinya.
Islam menegaskan bahwa manusia memiliki fitrah dan sumber daya insani, serta bakat-bakat bawaan atau keturunan, meskipun semua itu masih merupakan potensi yang mengandung berbagai kemungkinan. Seperti dijelaskan oleh Attoumy:

“Betapa pun juga faktor keturunan tidaklah merupakan suatu yang kaku hingga tidak bisa dipengaruhi. Bahkan ia bisa dilenturkan dalam batas tertentu. Alat untuk melentur dan mengubahnya ialah lingkungan dengan segala anasirnya. Lingkungan sekitar ialah aspek pendidikan yang penting.”

Ditegaskan pula oleh hadits Nabi:

Setiap kelahiran (anak yang lahir) berada dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang mempengaruhi anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR musnad Ahmad bin Hambal)

Fitrah di sini tidak berarti kosong atau bersih seperti teori tabularasa tetapi merupakan pola dasar yang dilengkapi dengan berbagai sumber daya manusia yang potensial. Karena masih merupakan potensi maka fitrah itu belum berarti bagi kehidupan manusia sebelum dikembangkan, didayagunakan dan diaktualisasikan. Allah Swt berfirman:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl : 78)

Pengertian syukur dalam ayat tersebut adalah memanfaatkan sebaik-baiknya SDM (sumber daya manusia) yang berupa pancaindera yakni daya penglihatan dan pendengaran serta akal pikiran dan hati untuk memahami ayat-ayat Allah baik ayat qauliyah maupun kauniyah. Makna syukur dalam perspektif pendidikan ialah optimalisasi penggunaan SDM dan seluruh kapasitas belajar dalam proses belajar mengajar.

6. Persahabatan

Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah mengubah jadi indah

Bait lagu yang pernah dinyanyikan sekelompok remaja Indonesia di atas kiranya dapat menjadi renungan bagi kita. Memang tidak dipungkiri bahwa persahabatan itu ibarat ‘kepompong’ dimana hasilnya adalah ‘kupu-kupu’ yang indah. kepompong adalah proses metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu. Ulat adalah binatang yang menggelikan bahkan menakutkan, akan tetapi dengan proses kepompong ulat tersebut dapat menjadi kupu-kupu indah nan menawan yang menjadi simbol keindahan.
Begitu juga sebagaimana dalam kehidupan kita. Persahabatan akan menjadikan hidup kita terasa lebih indah, damai, dan menyenangkan. Di samping menjadi makhluk individu kita juga termasuk makhluk sosial, yang dalam perannya di masyarakat membutuhkan gandengan tangan dan bantuan orang lain. Seseorang yang tidak memiliki sahabat, sejatinya ia sudah mengalami ‘kematian’ sebelum kematian yang sesungguhnya datang. Ia akan merasa terisolir (termarjinalkan) dan bahkan keberadaannya seperti tidak adanya (wujudihi kaadamihi) dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan persahabatan, sesuatu yang berat menjadi terasa ringan, sesuatu yang sulit terasa mudah, sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Bahkan benang yang kusut dan tidak beraturan pun dapat menjadi benang yang lurus dan tertata rapi. Itulah persahabatan.
Persahabatan mudah dicari, namun sulit dipelihara keeratannya. Menjalin hubungan persahabatan dan memeliharanya membutuhkan keahlian dan strategi yang tepat. Salah menggunakan strategi sama artinya memutuskan hubungan persahabatan secara sepihak. Karena bisa saja perilaku yang kita anggap biasa-biasa saja justru menjadi penyebab retaknya jalinan persahabatan yang selama ini kita pelihara. Saya meyakini bahwa jika ingin berguru tentang persahabatan, bergurulah pada Muhammad Saw. Beliau adalah manusia yang memiliki strategi handal dalam menjalin dan memelihara sebuah persahabatan.
Muhammad Saw mampu menundukkan hati Abu Bakar, bangsawan kaya dan terpandang di kalangan kaum Quraisy. Begitu juga keras kepalanya Umar ibn Khattab, bisa ditundukkan dengan keluhuran budi dan kehalusan akhlak Beliau. Ketika ada suatu pertikaian diantara suku-suku di Makkah, Beliau dapat memberikan solusi yang tepat tanpa merugikan salah satu pihak yang bertikai. Ibarat mencari ikan, dapat ikannya tetapi tidak keruh airnya. Selain Abu Bakar dan Umar ibn Khattab, masih banyak sahabat Nabi yang lain. Misalnya, Ja’far ibn Abu Thalib, Abdurrahman ibn Auf, Abdullah ibn Mas’ud, Bilal ibn Rabah, Ali ibn Abu Thalib, Abu Dzar al Ghifari, Abu Hurairah, Ustman ibn Affan, dll.
Di samping kelihaian Nabi dalam menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain, Beliau juga mampu memelihara persahabatan itu dengan baik dan bijaksana. Pernah suatu ketika Umar ibn Khattab berniat menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya tenang. Hafshah menjadi janda setelah ditinggal mati suaminya, Khunais ibn Hudzafah as Sahami. Untuk itu, Umar pergi ke rumah Abu Bakar dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya itu. Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikitpun. Kemudian Umar menemui Ustman ibn Affan dengan permintaan yang sama. Tapi Ustman ketika itu masih berkabung karena istrinya, Ruqayah bint Muhammad, baru saja meninggal dunia. Ustman pun menolak permintaan Umar. Umar kecewa. Ia lalu menemui Rasulallah, mengadukan sikap kedua sahabatnya itu. Mendengar penuturan Umar, Rasulallah berkata, “Hafshah akan menikah dengan lelaki yang lebih baik daripada Ustman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan perempuan yang lebik baik daripada Hafshah.” Umar langsung mengerti bahwa Nabi sendiri yang akan meminang putrinya itu. Di sinilah kiranya pelajaran yang bisa kita ambil, yakni kerelaan untuk berkorban demi sahabat tercinta.
Jangan salah memilih sahabat, karena ia bisa ‘membunuh’ kita. Jangan keliru memilih sahabat, karena ia bisa membinasakan kita. Jangan terlena memilih sahabat, karena ia bisa menghianati kita. Pilihlah sahabat yang mau bersama dalam suka maupun duka. Pilihlah sahabat yang tiada pamrih adanya. Pilihlah sahabat yang mengerti keadaan kita. Pilihlah sahabat yang mau berkorban demi kebaikan bersama. Dan pilihlah sahabat yang selalu mengingatkan kita pada jalan kebenaran yang diridhoi Allah Swt.

III. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Kebersahajaan atau kesederhanaan adalah salah satu sikap yang dimiliki oleh Rasulallah Saw. Kebersahajaan di sini diartikan sebagai sikap yang apa adanya dan fungsionalistik, bukanlah sikap yang ‘men-design’ atau menghias sedemikian rupa dari keadaan kita yang sebenarnya.
2. “Jadilah seperti Ikan” adalah sebuah kiasan yang memiliki makna ‘kemampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat tanpa harus larut di dalamnya’, ‘memiliki pendirian kukuh (istiqomah) memegang nilai-nilai kebaikan.’
3. Dalam era penuh tantangan ini, kemandirian adalah sebuah keharusan. Dengan kemandirian seseorang tidak lagi bergantung pada uluran tangan orang lain yang justru akan merendahkan martabatnya sendiri. Kemandirian adalah pilihan tepat mengentaskan bangsa dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan.
4. “Bacalah!” adalah kata yang terucap pertama kali oleh Jibril kepada Muhammad sebagai bagian awal darii wahyu pertama yang diturunkan. Dalam ilmu pendidikan makna “Bacalah!” adalah perintah untuk meneliti, mengamati, mengambil ibroh, dan menformulasikan cara penyelesaian (problem solving) atas fenomena-fenomena alam semesta untuk kepentingan ilmu dan pengetahuan.
5. “From Zero to Hero”, sebuah prinsip yang hendaknya dipegang dalam rangka mengembangkan potensi fitrah yang dianugerahkan Allah Swt kepada kita, yakni mengoptimalisasikan kekuatan dasar kita menjadi kekuatan besar yang sarat dengan kebermanfaatan, baik bagi kita maupun bagi sesamanya.
6. Persahabatan bagaikan ‘kepompong’, hasilnya adalah keseimbangan dan keserasian hidup bermasyarakat yang baik/indah, sebagaimana kupu-kupu indah nan menawan yang dihasilkan dari kepompong. Hal ini menunjukkan bahwa persahabatan adalah bukti eksistensi kita sebagai makhluk sosial, dimana setiap saat kita sangat membutuhkan dampingan dan bantuan orang lain.

Akhirnya, sebuah harapan, semoga tulisan ini diridhoi Allah Swt untuk dapat bermanfaat bagi semua. Tulisan ini hanya sebuah upaya insan biasa yang menginginkan model kehidupan yang baik dan indah. Yang namanya upaya pasti ada kurang dan lebihnya. Apabila ada kurangnya, semoga Allah Swt senantiasa mengampuni, dan sangat diharapkan kritik dan masukan dari para pembaca. Begitu juga apabila ada lebihnya, semoga menjadi amal baik dan perlu dikembangkan lebih lanjut. Wallahu a’lam bish-showab.



Tersono, 13/02/2011
Kritik & Saran ke 085643217999,
email: moch.iskarim@yahoo.com